Sabtu, 17 Oktober 2026

Fenomena Matahari merah saat wilayah diselimuti asap karhutla

Photo Author
Ampelsa Ps, AenteNews.com
- Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:33 WIB
Fenomena Matahari merah saat wilayah udara terpapar asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutal) menarik perhatian banyak warga pada waktu menjelang sore di Banda Aceh., Jumat (16/10/2026). Aentenews Foto/Ampelsa
Fenomena Matahari merah saat wilayah udara terpapar asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutal) menarik perhatian banyak warga pada waktu menjelang sore di Banda Aceh., Jumat (16/10/2026). Aentenews Foto/Ampelsa

“Hasil simulasi awal memperlihatkan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak. Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator. Pola tersebut memungkinkan PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand,” ujar Ardhi. 

Simulasi juga memperlihatkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi di sejumlah wilayah sumber, terutama Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di beberapa lokasi dekat sumber kebakaran, konsentrasi hasil simulasi bahkan mencapai lebih dari 7.500 mikrogram per meter kubik, sementara pada titik tertentu nilai maksimum simulasi pada akhir Agustus mencapai lebih dari 12.000 mikrogram per meter kubik. 

 

Fenomena Matahari merah saat wilayah udara terpapar asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutal) menarik perhatian banyak warga pada waktu menjelang sore di Banda Aceh., Jumat (16/10/2026). Aentenews Foto/Ampelsa

Menariknya, ketika dibandingkan dengan Agustus 2015, sebaran PM2.5 pada 2026 dalam simulasi terlihat lebih terlokalisasi, tetapi konsentrasi di sejumlah titik sumber diperkirakan lebih tinggi. Terdapat pula indikasi penambahan kontribusi sumber polutan, yaitu Papua Selatan yang terlihat lebih dominan dibandingkan 2015. 

Ia juga menegaskan bahwa hasil tersebut masih merupakan hasil penelitian yang sedang dikembangkan dan belum divalidasi. Artinya, hasil simulasi belum dibandingkan secara menyeluruh dengan data pengamatan lapangan untuk mengetahui tingkat akurasi model. Karena itu, angka dan pola sebaran yang dipaparkan belum dapat diperlakukan sebagai ukuran kualitas udara aktual di setiap lokasi. 

Ke depan, tim peneliti juga mengembangkan pendekatan pemodelan lain untuk meningkatkan efisiensi simulasi. Salah satunya menggunakan model kimia CHIMERE secara offline, sehingga proses meteorologi dan kimia dapat dijalankan secara terpisah dan lebih fleksibel.

Kajian mengenai penyebaran PM2.5 tersebut menjadi salah satu pengetahuan yang dibagikan antarperiset dalam Coffee Morning PRIMA. Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan forum tersebut juga dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan berbagai kegiatan riset di lingkungan PRIMA.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Ampelsa Ps

Tags

Terkini

HUT Kota Meulaboh ke 438, Budaya Aceh Jadi Daya Tarik

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 11:20 WIB

Pemerintah akan tarik sisa anggaran TKD yang tak terserap

Selasa, 29 September 2026 | 15:10 WIB

46,6 kilogram sabu asal Malaysia ditangkap di Langsa

Selasa, 29 September 2026 | 09:14 WIB
X