Selanjutnya, Mensos Saifullah menyampiakan, pada tahun ajaran baru 2026, pemeritah pusat bersama pemerintah daerah di Aceh telah mendatangi 400 keluarga yang sudah memenuhi kriteria. Calon siswa dari keluarga tersebut akan mengikuti proses lebih lanjut dan kemudian ditetapkan sebagai siswa Sekolah Rakyat.
Seecara umum, katanya, pembelajaran sekolah rakyat di berbagai kabupaten kota di 166 titik telah berjalan dengan baik meskipun pada awal-awal menemukan tantangan dan dinamika semuanya itu bisa diatasi dengan baik.
“Sesuai arahan Presiden, tahun ini kita akan tingkatkan alokasi penerimaan siswa baru dari 15 ribu sebelumnya menjadi 36 ribu lebih. Tahun depan insya Allah siswa sekolah rakyat seluruh Indonesia sudah mencapai lebih dari 100 ribu,” ujarnya.
Pemerintah terus melakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan tata Kelola Sekolah Rakyat, agar lulusan-lulusan sekolah rakyat nanti sesuai dengan harapan menjadi lulusan yang pintar, berkarakter, dan terampil.
Terkait pembangunan Gedung Sekolah Rakyat, Menteri menyatakan jumlahnya, sudah ada beberapa pembangunan gedung permanen dan kalau tidak salah ada lima unit. Lima gedung permanen sekolah rakyat salah satunya milik provinsi. “Ini yang saya juga beri catatan bahwa di tempat lain kabupaten kota punya gedung, provinsinya belum punya.
“Ada yang provinsinya punya, kabupaten kotanya belum punya. Seperti Bali itu. Tapi di Aceh kabupaten kotanya punya sebagian ya, tapi provinsinya juga sudah punya.
Ini adalah hal yang saya syukuri di Provinsi Aceh,” ucapatnya.
Soal pembelajaran bahasa asing di sekolah rakyat, pemerintah akan menyediakan dan akan didampingi oleh para gurunya. Begitu juga pembelajaran bahasa Arab di beberapa SR yang memang memiliki guru khusus. Tapi, di beberapa tempat lain akan menyesuaikan dengan minat bakat setiap siswa.