Kamis, 1 Oktober 2026

Tradisi adu nyali dari budaya tradisional Tabuh Rapa'i khas Aceh Utara

Photo Author
Ampelsa Ps, AenteNews.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:43 WIB
Penampilan budaya tradisional Rapai di Aceh Utara. Foto dok Pemkab Aceh Utara.
Penampilan budaya tradisional Rapai di Aceh Utara. Foto dok Pemkab Aceh Utara.

Aceh Utara (Aentenews) - Salah satu kompetisi musik tradisional yang tidak hanya menguji keindahan nada, juga menguji ketahanan fisik, konsentrasi tingkat tinggi, hingga spiritualitas.

Jika belum pernah menyaksikan, masyarakat atau wisatawan silahkan berkunjung ke pedalaman kabupaten Aceh Utara dan di sana akan dijumpai tradisi kultural luar biasa yang disebut Budaya Meu-uroeh.

Bukan sekadar pertunjukan seni biasa, Meu-uroeh adalah ajang tandingan atau festival adu kemahiran menabuh rapa’i—alat musik perkusi tradisional Aceh—yang telah menjadi simbol kebanggaan dan identitas masyarakat pesisir timur Aceh selama berabad-abad.

Apa Itu Budaya Meu-uroeh? Secara harfiah, kata uroeh atau uroh dalam bahasa masyarakat lokal bermakna "bertanding" atau "menandingi". Dalam praktiknya, Budaya Meu-uroeh adalah sebuah festival di mana dua kelompok penabuh rapa'i (biasanya menggunakan Rapa'i Uroeh atau Rapa'i Pase yang berukuran raksasa) saling berhadapan di atas panggung kayu tinggi yang disebut seung.

Tiap kelompok yang terdiri dari puluhan anak rapa'i (penabuh) akan dipimpin oleh seorang khali atau syekh. Tugas mereka berat: menabuh rapa'i dengan telapak tangan kosong hingga mengeluarkan suara menggelegar, sembari menjaga tempo ritme yang rumit dan mendengarkan aba-aba syekh.

Aturan Main: Bertanding Tanpa Dendam Bagaimana sebuah kelompok dinyatakan menang dalam meu-uroeh? Ada beberapa kriteria unik yang dinilai oleh wasit adat:
Keharmonisan Ritme: Ketukan ratusan tangan harus terdengar seperti satu ketukan tunggal yang bulat.

Volume dan Kekuatan Suara: Kelompok yang tabuhannya mampu "menenggelamkan" atau merusak konsentrasi ketukan lawan akan mendapat poin tinggi.

Ketahanan Fisik: Pertunjukan ini bisa berlangsung berjam-jam, bahkan hingga larut malam. Fisik yang prima adalah kunci.Uniknya, meski bertajuk kompetisi yang panas dan kompetitif, filosofi dasar meu-uroeh adalah meurakan atau menjalin persaudaraan. Begitu kompetisi selesai dan mereka turun dari panggung, kedua kelompok akan saling berpelukan dan makan bersama. Tidak ada ruang untuk dendam.

Media dakwah berbalut Ritem Etnik bagi masyarakat Aceh Utara, meu-uroeh adalah warisan leluhur (keunebah endatu) yang sakral. Di balik gemuruh suara kulit kambing dan kayu nangka yang dipukul bertalu-talu, ada pesan spiritual yang mendalam.

Di sela-sela dentuman rapa'i, sang khali akan melantunkan syair-syair berbahasa Aceh yang berisi selawat, petuah hidup, kisah sejarah perjuangan, hingga materi dakwah tentang rukun Islam. Ini adalah cara jenius para pendahulu dalam menyebarkan nilai-nilai moral dan agama Islam secara lisan agar mudah diterima oleh generasi muda.

Menolak Padam di Era Digital dan di tengah gempuran musik modern dan hiburan digital, budaya meu-uroeh terbukti memiliki daya hidup yang luar biasa. Anak-anak muda di pelosok desa Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe masih bangga menenteng alat musik gendang Rapa'i dan bergabung dengan sanggar lokal.

Pemerintah daerah dan komunitas adat juga kerap menggelar festival meu-uroeh skala besar untuk menyedot perhatian wisatawan nasional maupun mancanegara.

Meu-uroeh adalah bukti nyata bahwa tradisi tidak harus mati digilas zaman. Selama rapa'i masih berdenyut di tanah Pase, selama itu pula harmoni, ketangguhan, dan kerukunan masyarakat Aceh Utara akan terus bergema ke penjuru dunia.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ampelsa Ps

Tags

Terkini

X