Minggu, 11 Oktober 2026

Pukat Pantai tradisional itu masih tetap lestari di Aceh

Photo Author
Ampelsa Ps, AenteNews.com
- Sabtu, 10 Oktober 2026 | 14:38 WIB
Nelayan  menarik tali pukat dari daratan saat menangkap ikan menggunakan pukat tradisional  di pesisir Kampung Jawa, Banda Aceh, Sabtu (10/10/2026).
Nelayan menarik tali pukat dari daratan saat menangkap ikan menggunakan pukat tradisional di pesisir Kampung Jawa, Banda Aceh, Sabtu (10/10/2026).

Di tengah-tengah maraknya teknologi tersebut, sebagian nelayan Aceh lebih memilih cara tradisional dalam menangkap ikan di pesisir pantai provinsi Aceh yang sudah dilakoni sejak ratusan tahun silam.

Menurutnya, tradisi seperti ini di Aceh dikenal dengan sebutan dalam adat Aceh,  Tarek Pukat . Penangkapan ikan yang legal dan termasuk ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem laut.

Dalam sejarah masyarakat pesisi di Aceh, Tarek Pukat merupakan warisan dari abad ke-16 dan hampir di seluruh pesisir Aceh masih ditemukan hingga saat ini.

 

Nelayan menarik pukat dari daratan saat menangkap ikan menggunakan pukat tradisional di pesisir Kampung Jawa, Banda Aceh, Sabtu (10/10/2026).

Hasil tangkapan yang diperoleh, bermacam macam jenis ikan yang pada umumnya ikan perairan pantai dan bukan ikan perairan dalam. Semua hasil tangkapan ikan itu dijual dengan harga lebih murah kepada pengujung atau wisatawan dibanding dengan harga ikan yang dijual pedagang di sejumlah pusat pasar tradisional maupun pasar modern.

Menurut Pawang Surya, masyarakat atau pengunjung menyukai ikan hasil tangkapan nelayan, selain harganya terjangkau  juga ikan ikannya segar.  “Beginilah kita di sini, hidup di pesisir sebagai nelayan dan beradaptasi bersama warga mempererat silaturrahmi,” ujarnya Pawang Surya.

Nelayan memilah berbagai jenis ikan saat menangkap ikan menggunakan pukat tradisional di pesisir Kampung Jawa, Banda Aceh, Sabtu (10/10/2026).

Dalam adat atau tradisi nelayan, pukat pantai erat dengan kebersamaan karena dari proses penangkapan ikan dilakukan dengan semangat gotong royong  yang tidak hanya nelayan tradisional tetapi juga warga pengunjung juga turut berpartisipasi menarik pukat.

“Jika hasil tangkapan ikan melimpah, para pengunjung yang berpartisipasi membantu menarik pukat akan diberikan ikan secara cuma cuma sebagai bentuk kebersamaan sesuai dengan makna dalam Adat dan Hukum Laot di Aceh,” katanya.

Nelayan membuka kantong pukat untuk memindahkan hasil tangkapan ikan ke dalam keranjang di pesisir Kampung Jawa, Banda Aceh, Sabtu (10/10/2026).

Sejak beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan ikan sudah menurun dan tidak seperti jauh sebelumnya masih banyak ikan seiring dengan laut semakin tercemar sampah plastik dan kerusakan ekosistem akibat penyalahgunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti pukat trawl dan  kerusakan terumbu karang.

Nelayan saat ini menghadapi tantangan seperti pencemaran sampah laut dan perkembangan teknologi penangkapan ikan modern, namun mereka tetap mempertahankan kearifan lokal. 

Bagi nelayan di Aceh, Tarek Pukat Darat tidak hanya sekedar mencari rezeki tapi juga menjaga tradisi dan melestarikan laut bagi keberlangsung sumberdaya kelautan dan ekosistem.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Ampelsa Ps

Tags

Terkini

X