aceh

Fenomena Matahari merah saat wilayah diselimuti asap karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:33 WIB
Fenomena Matahari merah saat wilayah udara terpapar asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutal) menarik perhatian banyak warga pada waktu menjelang sore di Banda Aceh., Jumat (16/10/2026). Aentenews Foto/Ampelsa

 

 

 

Banda Aceh (Aentenews) - Fenomena Matahari merah saat wilayah udara terpapar asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutal) menarik perhatian banyak warga pada waktu menjelang sore di Banda Aceh.

Fenomena Matahari terlihat merah dan langit nyaris tak tampak,  bukan berarti Matahari secara fisik berubah warna.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Gefisika (BMKG) menyebutkan fenomena itu merupakan efek optik di atmosfer akibat cahaya matahari yang melewati udara dengan konsentrasi partikel asap dan polutan yang tergolong tinggi.

Disebutkan, warna merah yang terlihat pada matahari terjadi karena adanya hamburan cahaya ketika sinar matahari melewati atmosfer asap.

“Fenomena seperti ini jarang terjadi selama ini dan banyak warga menyaksikan matahari merah saat wilayah udara diselimuti asap,” kata Razali, warga kota Banda Aceh.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026 telah melintasi batas negara dan mempengaruhi sejumlah wilayah di Asia Tenggara. Di tengah fenomena tersebut, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan penyebaran partikel halus PM2.5 dari karhutla serta wilayah yang menjadi sumber utamanya.

“PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena ukurannya, partikel ini menjadi salah satu perhatian penting dalam persoalan kualitas udara. Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujar Peneliti Ahli Muda PRIMA, Ardhi Adhary Arbain.

 

Fenomena Matahari merah saat wilayah udara terpapar asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutal) menarik perhatian banyak warga pada waktu menjelang sore di Banda Aceh., Jumat (16/10/2026). Aentenews Foto/Ampelsa

Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer.

Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer. Dalam penelitian ini, data emisi kebakaran juga dikombinasikan dengan data penginderaan jauh, antara lain dari Sentinel dan MODIS/VIIRS, untuk membangun inventori emisi PM2.5. 

Halaman:

Tags

Terkini

HUT Kota Meulaboh ke 438, Budaya Aceh Jadi Daya Tarik

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 11:20 WIB

Pemerintah akan tarik sisa anggaran TKD yang tak terserap

Selasa, 29 September 2026 | 15:10 WIB

46,6 kilogram sabu asal Malaysia ditangkap di Langsa

Selasa, 29 September 2026 | 09:14 WIB