“Hilirisasi tidak hanya berlaku pada sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, seperti fashion asing menjadi produk lokal, parfum asing menjadi produk lokal, film asing menjadi produksi lokal, hingga aplikasi asing menjadi karya lokal,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa AMANAH diharapkan menjadi pusat kurasi, inkubasi ide, serta penguatan komersialisasi kekayaan intelektual, akses pembiayaan, dan pemasaran produk kreatif.
Kolaborasi multipihak, termasuk pemerintah, akademisi seperti Universitas Syiah Kuala, dunia usaha, lembaga keuangan, serta komunitas kreatif, dinilai menjadi kunci keberhasilan ekosistem ini.
Gubernur Aceh menegaskan bahwa relaunching AMANAH menjadi penanda penting dimulainya kembali fungsi gedung sebagai pusat kolaborasi lintas sektor. Ia menyebutkan bahwa AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi untuk mengembangkan potensi daerah secara berkelanjutan.
“Gedung AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya,” ucapnya.
Ia juga menekankan bahwa program ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata, terutama dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan melalui pendekatan ekonomi kreatif yang lebih terarah.
Dengan semangat kolaborasi dan hilirisasi, AMANAH Aceh diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif daerah yang tidak hanya memperkuat daya saing pemuda, tetapi juga membuka peluang investasi, ekspor, serta penciptaan lapangan kerja baru di masa mendatang.//Redaksi.