Tetapi manusia modern
datang membawa gergaji,
membawa peta tambang,
membawa pidato pembangunan.
Hutan dipandang
bukan lagi amanah Tuhan,
melainkan angka-angka
yang dapat dipindahkan
ke rekening kekuasaan.
Dan gunung mulai kehilangan doanya.
Di ruang-ruang rapat
mereka menyebut investor
seperti menyebut penyelamat.
Di meja-meja panjang
ditandatangani surat dukungan
oleh rakyat yang lapar—
rakyat yang perlahan diajari
menjual tanah leluhurnya sendiri
demi janji kemakmuran.
Betapa sunyi hati negeri ini.
Manusia tak lagi sujud kepada bumi,
melainkan kepada alat-alat berat
yang menggali perut gunung
siang dan malam.
Padahal tanah yang disakiti
tak pernah lupa
cara mengirim peringatan.