Bagi masyarakat Samosir yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Batak, program ini memiliki makna yang sangat penting. Melestarikan seni budaya berarti menjaga identitas, merawat warisan leluhur, sekaligus memperkuat akar budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kami berharap GSMS dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah, sehingga semakin banyak generasi muda yang mencintai budaya lokal, bangga terhadap warisan leluhurnya, dan terdorong untuk menjadi pelaku seni serta penerus budaya di masa depan," ujar Charles.
Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan, I Made Dharma Suteja, mengatakan bahwa Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) merupakan ruang interaksi yang mempertemukan seniman dengan sekolah sebagai wadah saling berbagi pengetahuan. Menurutnya, melalui program tersebut, seniman mentransfer pengetahuan seni kepada peserta didik, sementara guru pendamping membagikan pengalaman pedagogis kepada seniman, sehingga kolaborasi yang terbangun bermuara pada pelestarian seni dan nilai budaya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan GSMS pada 2026 mulai memperluas kolaborasi dengan lembaga strategis di luar pemerintah daerah, salah satunya BPODT. Kerja sama tersebut, kata Dharma, tidak hanya bertujuan menjaga seni dan nilai budaya tetap hidup, tetapi juga memperkuat peran seniman lokal sebagai bagian dari pengembangan pariwisata di Kawasan Danau Toba.
"Kami berharap kolaborasi yang telah dimulai pada tahun ini dapat terus berlanjut. Dengan begitu, beberapa tahun ke depan Danau Toba tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kehangatan masyarakatnya, semarak keseniannya, dan kekayaan budayanya yang membuat wisatawan ingin kembali berkunjung," pungkasnya.//Redaksi.