Puisi L K Ara
Dari langit,
kampung itu tampak seperti tubuh
yang baru selesai disayat zaman.
Sungai turun membawa lumpur,
membawa batang kayu,
membawa suara gunung
yang lama menahan sakitnya.
Sawah-sawah hijau
yang dahulu mengaji kepada hujan,
kini rebah
di bawah arus coklat
yang mengamuk seperti tentara lapar.
Rumah-rumah terbuka dadanya.
Jalan-jalan kehilangan arah.
Dan manusia berdiri
di antara lumpur dan takdir
sambil bertanya:
siapa sebenarnya
yang menebang bencana?
Bukit-bukit itu dahulu hening.
Pohon-pohon berdzikir sepanjang malam.
Akar-akar memegang bumi
seperti tangan para wali
menggenggam tasbih kesabaran.