Senin, 19 Oktober 2026

Rektor UIN Ar Raniry Sampaikan Pesan Jaga Perdamaian Aceh Kepada BEM Se Indonesia

Photo Author
Azhari Z, AenteNews.com
- Senin, 19 Oktober 2026 | 21:43 WIB
Wakil Rektor II Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar Raniry, Reza Idria MA PhD Aceh di Banda Aceh, Senin (19/10). (Foto Humas UIN)
Wakil Rektor II Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar Raniry, Reza Idria MA PhD Aceh di Banda Aceh, Senin (19/10). (Foto Humas UIN)

Banda Aceh (Aentenews) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Prof Dr Mujiburrahman MAg menitipkan pesan kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang untuk menjaga perdamaian Aceh.

Perdamaian yang telah dibangun melalui pengorbanan banyak pihak tidak boleh dipertaruhkan demi menyelesaikan berbagai persoalan daerah.

Hal tersebut disampaikan rektor dalam sambutan tertulis yang dibacakan  saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XX BEM se Indonesia yang bacakan Wakil Rektor II Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar Raniry, Reza Idria MA PhD Aceh di Banda Aceh, Senin (19/10).

Rakernas tersebut dibuka oleh Penjabat Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, yang mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengajak mahasiswa menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah sekaligus pengawas sosial yang kritis dan konstruktif.

“Pemerintah Aceh memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam pembangunan. Kami menyadari bahwa pembangunan yang baik membutuhkan keterbukaan terhadap aspirasi, kesediaan menerima kritik, dan kemauan untuk terus memperbaiki kebijakan,” ujar Muzakir Manaf dalam sambutan yang dibacakan Pj Sekda Aceh.

Adapun Mujiburrahman menitipkan pesan khusus kepada para delegasi mahasiswa selama berada di Aceh.

“Perdamaian Aceh tidak bisa ditawar,” demikian pesan Mujiburrahman dalam sambutannya.

Mujiburrahman mengatakan, perdamaian telah membuka ruang bagi masyarakat Aceh untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ia mengaku mengalami sendiri masa konflik Aceh ketika masih muda, sehingga memahami dampak konflik berupa ketakutan, ketidakpastian, dan keterbatasan dalam kehidupan masyarakat.

Menurut dia, kesempatan untuk berkumpul, berdiskusi, menyelenggarakan kegiatan akademik, dan menerima mahasiswa dari berbagai daerah secara aman merupakan hal berharga yang perlu dijaga bersama.

“Perdamaian bukan sekadar keadaan tanpa konflik bersenjata. Perdamaian merupakan fondasi bagi pembangunan Aceh yang bermartabat, bagi tumbuhnya pengetahuan, dan bagi masa depan generasi muda,” ujarnya dalam sambutan tersebut.

Ia menegaskan, berbagai kekurangan dan ketimpangan pembangunan di Aceh harus diselesaikan melalui perbaikan tata kelola dan kebijakan yang tepat, bukan dengan mengorbankan perdamaian.

Dalam forum tersebut, Mujiburrahman juga mendorong mahasiswa untuk mengambil peran dalam mengawasi kebijakan pemerintah dan menyuarakan kepentingan masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa sikap kritis perlu disertai kemampuan memahami persoalan secara mendalam dan menawarkan solusi berdasarkan pengetahuan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Azhari Z

Tags

Terkini

X