Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, lanjutnya, akan terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar sektor kakao tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
"Kami optimistis, dalam dua hingga tiga tahun ke depan komoditas kakao Aceh Tenggara akan dikenal dan mampu berasing di tingkat nasional maupun internasional," kata Bupati.
Sementara, Direktur Operasional PT Kudeungoe Sugata Indonesia, Mirza menjelaskan Kebun Induk Kakao dibangun sebagai sumber benih unggul bagi petani dan penangkar bibit. Kebun seluas sekitar dua hektare itu ditanami klon unggul seperti RHS-1, BB-01, dan MCC-02 . Dari total dua hektare tersebut, seluas 1,5 hektare difungsikan sebagai kebun induk, dan 0,5 hektare menjadi kebun entres sebagai sumber bahan perbanyakan bibit
Menurut Mirza, keberadaan kebun induk akan memudahkan petani memperoleh bibit berkualitas sehingga produktivitas dan mutu kakao terus meningkat. Di kawasan tersebut juga ditanam kacang koru sebagai tanaman sela yang dapat memberikan tambahan pendapatan bagi petani sambil menunggu tanaman kakao memasuki masa produksi.
Tingginya antusiasme petani, diakui menjadi alasan utama pembangunan kebun induk. Bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, pihaknya berkomitmen menjadikan daerah ini sebagai pusat penyedia benih kakao unggul. Saat ini proses sertifikasi terus dilakukan agar kebun induk dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani dan penangkar bibit.
Peluncuran Kebun Induk Kakao menjadi langkah nyata Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dalam membangun sektor pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga pembangunan serta petani, pengembangan kakao diharapkan mampu meningkatkan perekonomian daerah dan petani.
Aentenews by Ampelsa.