Oleh: Chiwi Putri Annajah
Banda Aceh (Aentenews) - Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi seorang anak. Bukan hanya tempat untuk makan, tidur, atau sekadar berkumpul, tetapi tempat di mana seorang anak merasa diterima tanpa harus berpura-pura kuat. Di tengah kehidupan sekarang yang semakin sibuk dan penuh tekanan, banyak anak tumbuh dengan kebutuhan materi yang tercukupi, tetapi diam-diam kekurangan perhatian dan kehangatan emosional.
Saat ini, kehidupan remaja tidak mudah. Media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat bahagia, sempurna, dan kuat. Sedikit demi sedikit, banyak anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka takut dianggap gagal, takut tidak diterima, bahkan takut menjadi diri sendiri. Dalam kondisi seperti itu, rumah memiliki peran yang sangat penting sebagai tempat pulang yang mampu menenangkan.
Namun kenyataannya, tidak semua anak mendapatkan hal tersebut. Banyak orang tua bekerja keras demi masa depan anak, tetapi tanpa sadar lupa menyediakan waktu untuk sekadar mendengarkan cerita mereka. Ada anak yang pulang ke rumah hanya untuk menemukan suasana dingin, pertengkaran, atau bahkan tidak dianggap keberadaannya. Padahal, perhatian kecil seperti menanyakan kabar atau mendengarkan keluh kesah bisa sangat berarti bagi seorang anak.
Anak yang tumbuh dengan kasih sayang yang cukup akan memiliki hati yang lebih kuat. Mereka tidak mudah mencari pengakuan dari orang lain karena sudah merasa dihargai di rumahnya sendiri. Ketika mengalami kegagalan, mereka tahu masih ada tempat untuk bersandar. Mereka juga tidak akan terlalu bergantung pada validasi media sosial atau perhatian orang lain untuk merasa berharga.
Sebaliknya, anak yang kurang mendapatkan kehangatan di rumah cenderung mencari kenyamanan di luar. Ada yang terlalu bergantung pada teman, pasangan, atau lingkungan pergaulan hanya karena ingin merasa diterima. Bahkan tidak sedikit yang rela bertahan dalam hubungan yang menyakitkan karena takut kehilangan satu-satunya tempat yang membuatnya merasa dianggap ada.
Hal seperti ini sering kali tidak terlihat. Banyak anak tampak ceria di luar, tertawa bersama teman-temannya, aktif di media sosial, dan terlihat baik-baik saja. Padahal sebenarnya mereka sedang menyimpan rasa sepi yang tidak pernah benar-benar mereka ceritakan kepada siapa pun. Mereka hanya ingin didengar, tetapi tidak tahu harus bercerita kepada siapa.