Foto: Warga membersihkan area yang terdampak kebakaran di Penco, daerah Biobio, Chile, pada 19 Januari 2026. Presiden Chile Gabriel Boric telah mengumumkan status bencana di daerah Nuble dan Biobio untuk mengatasi keadaan darurat. (Xinhua/Str)
Swiss (Xinhua/Indonesia Window/Aentenews) –
Frekuensi kejadian cuaca ekstrem di seluruh dunia meningkat, dengan suhu panas, dingin, serta hujan lebat yang tidak biasa terjadi secara berurutan dan menyebabkan kerugian ekonomi, lingkungan, dan manusia yang signifikan.
Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) pada Jumat (30/1) mengatakan bahwa Januari 2026 ditandai dengan tingginya frekuensi kejadian cuaca ekstrem di seluruh dunia, dengan suhu panas, dingin, serta hujan lebat yang tidak biasa terjadi secara berurutan dan menyebabkan kerugian ekonomi, lingkungan, dan manusia yang signifikan.
Dalam sebuah pernyataan pers, Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menyerukan peningkatan akurasi dan ketepatan waktu dalam prakiraan cuaca, serta investasi yang lebih besar pada sistem peringatan dini, mengingat peningkatan suhu jangka panjang akan menyebabkan cuaca ekstrem yang lebih sering dan intens.
Menurut informasi yang dikumpulkan oleh Mekanisme Koordinasi WMO dari Anggota dan Pusat WMO, baik Belahan Bumi Selatan maupun Utara mengalami bencana terkait cuaca yang meluas selama bulan tersebut.
Di Australia, sejumlah area besar dilanda dua gelombang panas yang disertai kondisi kebakaran berbahaya. Data dari Biro Meteorologi menunjukkan bahwa Kota Ceduna di Australia Selatan mencatat suhu 49,5 derajat Celsius pada 26 Januari, rekor tertinggi di daerah itu. Kombinasi suhu panas dan angin kencang mendorong ancaman kebakaran ke level ekstrem di banyak area.
Chile dan Argentina juga menghadapi kombinasi suhu panas, kekeringan berkepanjangan, dan angin kencang, yang memicu kebakaran hutan destruktif.