Menurut Adrin, kejadian terbentuknya sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah dengan bentang alam karst atau kawasan batugamping. Beberapa daerah yang dikenal rawan pembentukan sinkhole antara lain Gunung Kidul (Yogyakarta), Pacitan (Jawa Timur), dan Maros (Sulawesi Selatan). Ketiga daerah ini memiliki lapisan batugamping cukup tebal di bawah permukaan tanah.
Dia melanjutkan, salah satu tantangan utama dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah tanah sehingga tidak mudah dikenali secara visual. Meski demikian, keberadaan rongga batugamping dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.
“Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah permukaan. Dengan cara ini, potensi sinkhole dapat diantisipasi lebih dini,” paparnya.
Terkait kualitas air yang ditemukan di dalam sinkhole, Adrin menegaskan bahwa air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Oleh karena itu, kelayakannya untuk dikonsumsi tidak dapat ditentukan secara langsung.
“Air harus melalui analisis kimia, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat sesuai standar kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” jelasnya.
Adrin juga mengingatkan bahwa kawasan permukiman yang berdiri di atas lapisan batugamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” katanya.
Adrin menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam mitigasi sinkhole. Salah satu metode rekayasa geoteknik yang dapat dilakukan adalah cement grouting, yakni menginjeksikan semen, mortar, atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga di lapisan batugamping bawah permukaan.
Proses ini diawali dengan pemboran dari permukaan hingga kedalaman rongga, kemudian material grouting diinjeksi melalui pipa menggunakan pompa bertekanan.