“Permasalahannya mungkin salah satunya titik koordinat yang dikirimkan oleh petani atau penyuluh tidak sesuai. Ketika kita mengambil geotagging, titiknya bergeser. Kemudian ada juga kendala alat transportasi penyuluh yang tidak dapat menjangkau lahan petani karena banyak jalan kebun yang rusak pascabencana,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Bener Meriah, Riswandika Putra, berharap berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program hilirisasi perkebunan dapat diselesaikan melalui rapat tersebut. Dengan demikian, penyaluran bibit kopi kepada petani dapat segera dilakukan.
“Saya berharap semua kendala dapat kita carikan solusinya, sehingga penyalurannya bisa segera kita lakukan, “ demikian Riswandika.
Aentenews by Ampelsa.