Foto Dok Stages PRR
Banda Aceh (Aentenews) - Pascabencana banjir Sumatera, mendorong Badan Informasi Geospasial (BIG) ambil bagian turun langsung ke wilayah terdampak untuk memperkuat penyediaan data geospasial sebagai dasar percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Hingga 2028, BIG menargetkan pemetaan wilayah terdampak di 52 kabupaten/kota yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta wilayah lain yang memiliki potensi bahaya banjir.
Langkah tersebut merupakan bagian dari dukungan BIG sebagai anggota Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) pada bidang data. BIG berperan menyediakan Informasi Geospasial (IG) yang akurat, terstandar dan terintegrasi, termasuk peta bahaya banjir yang dapat digunakan bersama oleh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.
Tim BIG saat ini telah berada di sejumlah lokasi terdampak untuk melakukan pendataan, identifikasi, dan pengukuran kondisi wilayah pascabanjir. Data lapangan tersebut akan diintegrasikan dengan berbagai sumber IG untuk menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi dan karakteristik bahaya banjir di setiap wilayah.
Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik BIG Antonius B. Widjanarto dalam keterangan resmi , Rabu (16/9/2026) menjelaskan, kesamaan referensi geospasial menjadi kunci agar berbagai pihak dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang konsisten.
“Penanganan pascabencana tidak cukup hanya dengan mengetahui berapa besar kerusakan, tetapi juga harus diketahui secara tepat di mana lokasi terdampak, bagaimana karakteristik bahayanya, serta bagaimana kondisi wilayah tersebut sebelum dan setelah bencana. Informasi geospasial menjadi salah satu fondasi untuk memastikan intervensi rehabilitasi dan rekonstruksi , tepat lokasi, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.