Menurut dia, AISZAWA 2026 menyoroti tiga hal, yakni inovasi, tata kelola, dan kolaborasi global.
Aceh, kata Azharsyah, memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan keuangan sosial Islam. Di antaranya keberadaan Baitul Mal, potensi wakaf, lembaga keuangan syariah, dukungan regulasi, perguruan tinggi, serta masyarakat yang memiliki tradisi filantropi.
Ia berharap Aceh dapat menjadi living laboratory pengembangan keuangan sosial Islam.
"Kami di FEBI tentu ingin berperan lebih jauh sebagai academic hub nantinya, yang menghubungkan antara research, policy, dan juga practice," ujarnya.
Dalam pembukaan AISZAWA 2026, UIN Ar-Raniry menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kolej Universiti Islam Johor Sultan Ibrahim (KUIJSI), Malaysia.
MoU ditandatangani Rektor Mujiburrahman dan Rektor KUIJSI, Prof Madya Dr Hussin bin Salamon.
Kerja sama tersebut mencakup bidang akademik, penelitian, pendidikan tinggi, dan pembangunan modal insan. Kedua perguruan tinggi juga membuka peluang penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta peningkatan mutu pembelajaran.