Ketua Panitia Pameran Foto Prahara Pulau Emas, Eko Deni Saputra (kanan) menyerahkan penghargan kapada Juru Bicara Satgas PRR Aceh, Amran MT (kiri) saat penutupan pameran Foto Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Sabtu (8/8/2026).
Banda Aceh (Aentenews) — Pameran Foto “Prahara Pulau Emas” yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh dinyatakan berakhir pada Sabtu (8/8/2026) setelah selama beberapa hari terpajang mengihasi bangunan bersejarah di Museum Tsunami, Banda Aceh, provinsi Aceh.
Meskipun pameran Foto Prahara Pulau Emas telah usai. Namun, ruang waktu untuk menampilkan dokumentasi berbagai peristiwa bersejarah terkait edukasi, mitigasi serta upaya membangun kesadaran manusia peduli terhadap lingkungan akan terus berlanjut dalam edisi dan momentum berikutnya.
“Pameran foto tidak sekadar menjadi ruang untuk menampilkan dokumentasi bencana, tetapi juga memiliki nilai penting sebagai media edukasi, mitigasi, serta membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan,” kata Juru Bicara Satgas PRR sekaligus Direktur Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara Kementerian Dalam Negeri, Amran, MT saat penutupan kegiatan pamseran Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami di Banda Aceh.
Menurut Amran, rangkaian dokumentasi yang ditampilkan dalam pameran tersebut memberikan pelajaran penting bahwa manusia harus menjaga hubungan dengan alam, sebaliknya alam juga mengaja manusia.
“Kita sadar bahwa lingkungan ini adalah sahabat kita. Seperti halnya manusia, kalau bersahabat kita harus saling menjaga. Kalau kita jaga alam, alam ini akan menjaga kita,” ujar Amran.
Ia mengatakan, bencana alam yang terjadi di Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera harus menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Dokumentasi foto, dapat menjadi sarana publikasi dan edukasi membantu masyarakat memahami kondisi bencana secara nyata.