Banda Aceh (Aentenews) - Kenaikan nilai dolar Amerika Serikat memberikan dampak positif terhadap harga minyak nilam petani di Aceh yang ditandai dengan terdongkraknya penjualan komoditas minyak atsiri tanaman nilam (pogostemon cablin) dari Rp750.000 menjadi Rp.950.000 per kilogram.
Para petani nilam di kecamatan Lhoong, kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh mengakui sejak beberapa hari terakhir komoditas minyak atsiri nilam menguat. Namun, kenaikan itu belum menyamai rekor tertinggi harga sebelumnya mencapai Rp 1 juta hingga 1,2 per kilogram.
“Sejak dua hari terakhir harga penjualan minyak nilam menguat setelah sebelumnya sempat anjlok akibat permintaan sepi,” kata Amiruddin, petani nilam di kecamatan Lhoong kabupaten Aceh Besar, Kamis (11/6/2026).
Tanaman nilam yang menghasilkan minyak atsiri dalam dunia perdagangan internasonal juga dikenal dengan nama “pattchouli oil” yang dikembangkan petani petani tradisional di daerah itu, sudah memiliki pangsa pasar ekspor dan salah satunya negara konsumen tetap Perancis.
Kenaikan harga minya atsiri dari tanaman nilam itu juga dirasakan manfaatnya oleh , Nurdin, petani nilam di kecamatan Lhoong , kabupaten Aceh Besar. “Harga minyak nilam saat ini lumayan membaik dari harga sebelumnya, karena komoditas ekspor minyak atsiri terdampak positif terhadap menguat nilai dolar Amerika Serikat.
Terkait usaha tanaman nilam di daerah itu, menurut petani di daerah itu prospeknya secara ekonomi menjanjikan karena pangsa pasarnya sudah berhasil menembus luar negeri. Minnyak nilam olahan petani itu ditampung oleh salah satu pengusaha dan kemudian baru di ekspor ke Perancis.
Amiruddin mengatakan, meskipun peluang pasar minyak atsiri terbuka untuk pasar luar negeri dan kualitasnya sudah diakui pasar, namun belum didukung dengan upaya peningkatan produksi dan pengemngan lahan .