Suharyanto juga mengatakan kesiasiagaan bencana di Aceh sebenarnya sudah sejak dulu dilakukan warga secara turun menurun. “ Seperti yang dikatakan Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin kearifan lokal, Ie Beuna dan Smoong di pulau simeulue yang artinya gelombang atau air naik atau merupakan peringatan untuk menghindari resiko bencana,” katanya.
“Kita sepakat itu warisan nenek moyang kita yang sangat terjaga dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana di Tengah Masyarakat Aceh Itu Mari kita jadikan sebagai pembelajaran warisan nenek moyang kita itu,” tambahnya.
Angka psykologis bencana terus meningkat dari tahun ketahun, kita tidak bisa menjegah bencana alam , selain meningkatkan kesadaran. Kebakaran hutan pada musim kemarau dan banjir di mana .
BNPB memberikan apresisiai kepada pemerintah Kota Banda Aceh atas dukungan sehingga peringatan HKB yang dipusatkan di daerah terlaksana dengan baik.
Pada Kesempatan itu, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyatakan
kesiapsiagaan bagi kota banda aceh, bukan pilihan tapi kebutuhan. Oleh karena itu, katanya masyarakat dapat menghidupkan budaya siaga bencana, sebagaimana daerah itu sudah pernah mengalami bencana gempa dan tsunami
Di sisi lain , Kota Banda Aceh terus mempersiapkan mitigasi bencana menngkatkan kesiapsiagaa. Beberapa sekolah di daeranya sudah membentuk program sekolah aman bencana siap, siaga bencana, karena aceh rawan gempa dan banjir.
Walikota juga mengucapkan terima kasih atas bantuan dibangunannya lima unit alat peringatan dini EWS yang ditempat di beberapa titik strategis dalam memonitor bencana banjir.