Foto Ist
Oleh DR Khairul Akbar PII
Banda Aceh (Aentenews) - Tim ahli Sumber Daya Air Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Banda Aceh menilai bahwa banjir besar yang melanda Aceh pada akhir 2025 tidak dapat lagi dibaca sebagai peristiwa cuaca ekstrem yang kebetulan terjadi.
Kehadiran siklon tropis Senyar, yang memicu hujan lebat berskala luas, justru menyingkap persoalan yang lebih mendasar, yakni rapuhnya cara kita mengelola daerah aliran sungai (DAS) di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.
Aceh secara alamiah berada pada kondisi yang rentan. Pegunungan Bukit Barisan menjadi hulu bagi sungai-sungai utama seperti Meureudu (Pidie Jaya), Peusangan (Bireuen), Jambo Aye (Aceh Utara), dan Tamiang (Aceh Tamiang), yang mengalir cepat menuju dataran rendah dan kawasan pesisir.
Karakter DAS yang relatif pendek, dengan lereng curam di bagian hulu, membuat respon aliran sungai berlangsung sangat cepat. Ketika hujan ekstrem turun hampir bersamaan di wilayah hulu dan tengah, sungai tidak memiliki cukup waktu dan ruang untuk meredam lonjakan debit, luapan air pun sulit dihindari.
Peristiwa siklon Senyar memperlihatkan bahwa hujan ekstrem kini kerap melampaui asumsi perencanaan hidrologi berbasis data historis. Tanah cepat jenuh, infiltrasi menurun, limpasan permukaan mendominasi, dan debit puncak sungai meningkat tajam.