Menurut dia, gelar akademik hanya akan bermakna jika disertai dengan kesadaran etis dan tanggung jawab sosial. Lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu membaca persoalan di lingkungannya serta berperan aktif dalam mencari solusi, bukan justru menjauh dari realitas sosial.
Dalam orasinya, Syamsul Rijal juga menyoroti pentingnya membangun budaya akademik yang sehat di lingkungan kampus. Ia menekankan perlunya tradisi membaca yang kuat, riset berbasis data, serta sikap rendah hati secara intelektual sebagai fondasi utama kehidupan akademik.
Ia mengingatkan bahwa budaya merasa paling tahu tanpa kompetensi dan riset yang memadai berpotensi merusak iklim akademik. Kampus, menurutnya, seharusnya menjadi ruang dialog ilmiah yang terbuka, bukan tempat reproduksi klaim kebenaran tanpa dasar keilmuan.
“Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis, bukan sekadar tempat mengumpulkan ijazah,” katanya.
Lebih lanjut, Syamsul Rijal mendorong integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai etika dan spiritual. Integrasi tersebut dinilai penting sebagai fondasi dalam membangun peradaban yang berkeadaban, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Menurut dia, pendidikan memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang adaptif terhadap perubahan global, namun tetap berakar kuat pada nilai moral, budaya, dan kearifan lokal. Tanpa fondasi etika dan spiritual, kemajuan ilmu pengetahuan berisiko kehilangan arah.
Wisuda STKIP Usman Safri Kutacane tahun akademik 2025/2026 ini meluluskan 87 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 lulusan berasal dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, sementara 18 lainnya dari Program Studi Bahasa Inggris.
Wisuda ini menjadi yang keenam sejak STKIP Usman Safri Kutacane berdiri di bawah naungan Yayasan Anak Bangsa. Sejak berdiri, perguruan tinggi tersebut dinilai konsisten berkontribusi dalam mencetak tenaga pendidik dan sumber daya manusia di wilayah Aceh Tenggara.