Pemisahan pasien secara ideal memang diperlukan, namun di lapangan, terutama untuk anak-anak, hal ini sangat sulit dilakukan,” ujar Ferdiyus.
Lebih lanjut Ferdiyus menyebutkan keterbatasan air bersih di sejumlah titik pengungsian juga mulai memicu kasus penyakit kulit. Ia memastikan ketersediaan obat-obatan, khususnya untuk penyakit kulit, masih mencukupi.
“Relawan kesehatan di lapangan 126 orang. Pada awal Januari 2026, Kementerian Kesehatan RI direncanakan akan menambah sekitar 600 relawan. Kendala utama saat ini adalah akses transportasi dari posko ke desa-desa terpencil,” kata Ferdiyus.
Melalui Health Emergency Operational Center (HEOC), layanan kesehatan telah menjangkau 6.073 orang dengan total kunjungan medis mencapai 71.764 kali. Penyakit yang paling banyak ditangani meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, diare, hipertensi, dan demam.
Pemerintah Aceh telah menyalurkan berbagai logistik kesehatan, antara lain obat-obatan dan bahan medis habis pakai, makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil, vitamin A, serta paket sanitasi.
Data Klaster Kesehatan juga mencatat jumlah kelompok rentan yang cukup besar, antara lain 459.428 lansia, 394.250 balita, serta lebih dari 100 ribu ibu hamil dan ibu menyusui.
Sekda Aceh m Nasir menekankan agar klaster kesehatan bekerja cepat dan bersinergi dengan klaster lain, terutama untuk memastikan sanitasi dan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi guna mencegah terjadinya penularan penyakit.
Selain klaster kesehatan, perkembangan penanganan di sektor lain juga dilaporkan. Untuk klaster pencarian dan pertolongan, Basarnas masih melakukan pencarian terhadap 31 korban yang dinyatakan masih hilang.