Banda Aceh (Aentenews) - Pemerintah Aceh memberikan perhatian serius terhadap potensi peningkatan penyakit menular di lokasi pengungsian pasca bencana alam banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah.
Dua penyakit utama yang perlu diwaspadai adalah Tuberkulosis (TBC) dan campak, mengingat kondisi pengungsian yang padat serta keterbatasan sarana pendukung.
Dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Aceh yang dipimpin Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir, di Posko Hidrometeorologi Aceh, Kantor Gubernur Aceh, Rabu.
Asisten I Sekda Aceh M Syakir, menjelaskan berdasarkan data terkini terdapat 9.204 penderita TBC di wilayah terdampak bencana. Kondisi pengungsian yang padat dan mobilitas warga yang tinggi dinilai meningkatkan risiko penularan penyakit.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, menyebutkan bahwa TBC dan campak menjadi ancaman yang harus segera ditanggulangi. Salah satu cara adalah memisahkan tenda pengungsian antara penderita TBC dengan masyarakat umum lain.
Namun kekhawatiran akan menularnya penyakit campak juga harus diwaspadai, apalagi anak-anak yang sulit dikontrol ruang geraknya.
“Setiap hari di pengungsian selalu terdapat kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, dan lansia. Penyakit yang paling kami khawatirkan adalah campak dan TBC.