Terkait bantuan, katanya, pengungsi menyatakan memang sudah cukup banyak diterima, tetapi menjelang Ramadan akan lebih sulit karena keterbatasan. Kondisi pengungsi semakin berat setelah dapur umum tidak lagi beroperasi dan warga korban bencana harus memasak sendiri.
Abdul Halim menjelaskan, dapur darurat berhenti karena keterbatasan tenaga relawan yang selama ini bekerja secara sukarela tanpa digaji.
Tenaga relawan memasak untuk kebutuhan pengungsi bersifat sukarela dan tidak digaji dan wajar kalau mereka menyatakan jenuh. “Kami tidak bisa memaksa, tetapi kami tetap berupaya agar bantuan bahan pokok terus tersalurkan kepada masyarakat,” katanya.
Aentenews by Ampelsa.