Menurut Mualem, persoalan LGBT di Aceh sangat mengganggu kenyamanan masyatakat Aceh. “LGBT sudah memiliki komunitas di Aceh yang menimbulkan perhatian masyarakat,” katanya.
Karena itu, Mualem mengintruksikan seluruh jajarannya untuk bekerjasama mencegah penyebarannya.
Terkait meningkatnya kasus HIV/Aids di Banda Aceh yang diibaratkan seperti "Gunung Es" itu, tentunya seluruh komponen harus menjadi "lokomotif" dalam meningkatkan kesadaran kolektif untuk pencegahannya. Masih ada waktu.
Keprihatinan meningkatnya kasus HIV/Aids di kota berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa ini, menggugah Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST dengan mengusulkan gagasan agar di Banda Aceh segera dibentuk Komite Penanganan AIDS.
Komite tersebut diharapkan menjadi wadah koordinasi lintas sektor untuk memastikan penanganan HIV/AIDS berjalan lebih efektif, termasuk memperkuat sosialisasi, edukasi, dan upaya pencegahan di tengah masyarakat.
Usulan itu disampaikan Irwansyah setelah mendengarkan penjelasan Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) se-Aceh mengenai kondisi terkini di Banda Aceh, yang berlangsung di ruang rapat pimpinan DPRK Banda Aceh, pada 27 Juli 2026.
Menurut politisi muda PKS ini, penanganan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.