"Ancaman tersembunyi yang harus disadari". Narasi singkat tapi padat, namun memberi peringatan bagi kita semua tentang rapuhnya nilai-nilai spritual sehingga sebagian generasi kita terjebak ke perbuatan melanggar hukum dan norma-norma yang berlaku di Aceh.
Dalam beberapa pekan terakhir, miris tak kala media menyiarkan data yang mengisyarakat penularan HIV/Aids di Banda Aceh sudah menunjukkan sinyal mengkhawatirkan.
Lebih prihatin lagi, penderita penyakit yang "mematikan" itu justru kasusnya banyak ditemukan di rumah-rumah kontrakan (kos).
Yang lebih menyedihkan dan menyayat hati adalah data itu mengungkap kelompok umur penderita yang terpapar HIV/Aids sebagian adalah usia produktif atau dibawah 40 tahun.
Kasus meningkatnya penderita HIV/Aids di ibu kota provinsi yang berotonomi khusus ini, tentunya menjadi PR bersama guna mencarikan solusi untuk langkah pencegahan di masa mendatang.
Bahkan, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau sapaan akrab Mualem juga mulai menunjukkan kekhawatirannya terkait persoalan LGBT di Aceh kini sudah pada level "darurat" yang dibutuhkan energi massa untuk pemberantasannya.
Sebaran lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT di Aceh sudah sangat meresahkan masyarakat.
“Itu persoalan serius di Aceh. Selain bertentangan dengan Syariat Islam, LGBT juga menyebar penyakit mematikan HIV/Aids,” kata Mualem sebagaimana disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, beberapa waktu lalu.