“Indonesia percaya bahwa masyarakat lokal yang resiliens merupakan fondasi dari kawasan ASEAN yang resiliens pula,” tegas Deputi Raditya Jati
Kekuatan semangat ASEAN Village atau ‘Desa ASEAN’ diharapkan dapat memberikan dampak nyata di tingkat lokal. Deputi Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati yang sekaligus chair Pertemuan ke-48 ACDM mengatakan, desa disorot sebagai penggerak aktif resiliensi berkelanjutan, yang menunjukkan kemandirian dalam pengurangan risiko bencana, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan perlindungan sosial.
Hal tersebut juga tidak terlepas dari upaya komunitas dalam mengatasi risiko sistemik dan dampak beruntun. ASEAN menghadapi tantangan yang kompleks dan tumpang tindih karena bencana dapat diperburuk oleh faktor perubahan iklim, darurat kesehatan, dan gangguan ekonomi. ASEAN tidak hanya harus merespons situasi tersebut tetapi berupaya mengantisipasi risiko dan mengurangi kerentanan.
Melalui pendekatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat atau whole-of-society, konsep resiliensi berkelanjutan ini didorong untuk masuk ke dalam seluruh sektor kerja sama di ASEAN.
Menurutnya, inisiatif ini adalah langkah konkret Indonesia dalam menerjemahkan Visi Komunitas ASEAN 2045 agar manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat.
Acara ini menjadi wadah bertemunya perwakilan negara-negara ASEAN, akademisi, hingga mitra pembangunan untuk menjembatani praktik baik di tingkat komunitas dengan kebijakan di tingkat regional. Keselamatan lingkungan, ketahanan sosial, hingga energi dibahas secara komprehensif lewat kolaborasi lintas sektor.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengajukan proposal percepatan implementasi Deklarasi Pemimpin ASEAN 2023 tentang resiliensi berkelanjutan melalui konsep ASEAN Sustainable Resilience Strategies. Diskusi ini melahirkan sejumlah rekomendasi kebijakan dan peta kemitraan yang akan menjadi modal kuat ASEAN dalam menghadapi tantangan global Pasca-2030.
Dalam sesi diskusi, Indonesia berkesempatan untuk berbagi pengalaman sukses dalam mengimplementasikan program Desa Tangguh Bencana (Destana). Program ini digerakkan dengan menitikberatkan pada upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas.