Suasana forum diskusi "ASEAN Village to the World: Partnership for Sustainable Resilience through the Development of ASEAN Sustainable Resilience Strategies" dalam agenda ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) ke-48 di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/7). (Bidang Komunikasi Kebencanaan / Danung Arifin)
Bandung (Aentenews) - Guna membumikan konsep resiliensi berkelanjutan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Luar Negeri menggelar diskusi strategis di sela-sela Pertemuan ke-48 Komite Penanggulangan Bencana ASEAN (ACDM) menempatkan desa dan komunitas lokal sebagai garda terdepan dalam menghadapi ancaman bencana.
Pertemuan ke-48 Komite Penanggulangan Bencana ASEAN (ACDM) di Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (30/7) mengusung tema “ASEAN Village to the World: Partnership for Sustainable Resilience through the Development of ASEAN Sustainable Resilience Strategies”.
Forum ini menempatkan desa dan komunitas lokal sebagai garda terdepan menghadapi ancaman bencana dan perubahan iklim. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai ketua ACDM, tetapi juga selaras dengan visi Asta Cita pemerintah untuk membangun resiliensi masyarakat—termasuk pangan dan energi—yang dimulai dari tingkat desa.
Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati yang sekaligus chair Pertemuan ke-48 ACDM mengatakan, desa disorot sebagai penggerak aktif resiliensi berkelanjutan, yang menunjukkan kemandirian dalam pengurangan risiko bencana, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan perlindungan sosial.