nasional

Israel menjadi musuh bersama gerakan kemanusiaan global

Senin, 6 Oktober 2025 | 07:55 WIB
etua MUI, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, berpidato pada aksi “Genosida Belum Berhenti Jangan Ada Nakba Lagi” di Kawasan Patung Kuda, Jakarta, Ahad (18/5/2025) Foto: Dok ARI-BP



Dari reruntuhan Gaza, Sudarnoto menegaskan, dunia menyaksikan lahirnya gelombang empati dan solidaritas global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gerakan masyarakat sipil, lembaga kemanusiaan, akademisi, pemimpin agama, hingga parlemen dunia membentuk poros baru kesadaran global yang menegaskan bahwa penjajahan dan genosida tidak bisa lagi ditoleransi.





Empati tersebut dinilai berubah menjadi energi politik dan moral untuk melawan kejahatan kemanusiaan yang sistemik dan melawan hegemoni yang selama ini membungkam suara kebenaran.





Dalam gelombang kebangkitan, ujar Sudarnoto, Indonesia berdiri di barisan depan. Dengan landasan konstitusional menentang segala bentuk penjajahan di atas dunia, Indonesia memegang peran penting dalam menggalang kekuatan global untuk kemerdekaan Palestina.





Gerakan masyarakat sipil, parlemen, dan diplomasi resmi Indonesia telah berulang kali menegaskan posisi yang tidak tergoyahkan bahwa perjuangan Palestina adalah perjuangan kemanusiaan, dan diam terhadap penjajahan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nurani. 





"MUI, ARI-BP, seluruh lembaga filantropi dan bela Palestina dan berbagai elemen Masyarakat Indonesia telah dan terus menunjukkan dedikasinya untuk bela Palestina," ujar Sudarnoto menegaskan.





Jebakan Abraham Shield Plan





Di tengah perubahan besar ini, Sudarnoto mengatakan, muncul manuver politik baru dari Israel yaitu Abraham Shield Plan yang dipromosikan oleh Benjamin Netanyahu. Di balik retorika “perdamaian” dan “stabilitas kawasan”, ujar dia, rencana ini sejatinya adalah jebakan geopolitik yang bertujuan memperluas legitimasi Israel di dunia Islam. 





Melalui skema tersebut, Sudarnoto menjelaskan, Netanyahu berusaha menciptakan zona aman bagi Israel dengan menyeret negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, untuk secara tidak langsung mendukung kelanggengan penjajahan. "Ini bukan rencana perdamaian, melainkan reinkarnasi kolonialisme yang disamarkan dalam diplomasi," ujar Sudarnoto.





Di sisi lain, ia mengatakan, perkembangan politik menunjukkan bahwa Hamas, meskipun terus ditekan dan diserang, mulai membuka ruang diplomasi yang signifikan. Kesediaannya untuk menerima sejumlah poin dari 20 butir proposal yang pernah diajukan Donald Trump mencerminkan kemajuan politik dan diplomatik yang matang. 

Halaman:

Tags

Terkini

Da'i kini harus gaul di medsos, dakwah  ke lapangan 

Jumat, 25 September 2026 | 08:39 WIB

41 persen anak sekolah alami gigi berlubang

Sabtu, 19 September 2026 | 11:09 WIB