Sabilul mengatakan IGIC membawa tiga gagasan utama, yakni masjid harmoni, religious diplomacy, dan global peace. Konsep masjid harmoni, kata dia, menempatkan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, kegiatan sosial, kemanusiaan, dan pembangunan kehidupan masyarakat.
“Ke depan perspektif ini kita tambah bahwa masjid sebagai pusat corong perdamaian dunia dan toleransi,” ujarnya.
Menurut Sabilul, fungsi sosial masjid tersebut memiliki akar sejarah yang kuat dalam peradaban Islam. Masjid pada masa Rasulullah tidak hanya digunakan untuk kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, kegiatan masyarakat, pelayanan kemanusiaan, hingga tempat menerima delegasi dari berbagai wilayah.
Melalui IGIC, fungsi tersebut ingin diperluas dalam konteks global. Para imam besar diharapkan dapat menjadi bagian dari jejaring yang menyuarakan perdamaian dan toleransi dari lingkungan masing-masing.
“Bayangkan kalau nantinya para grand imam besar ini dari mimbar-mimbar mereka menyuarakan perdamaian, harmony and peace, maka dampaknya sangat luar biasa,” kata Sabilul.
Sabilul Afif menjelaskan, pendekatan religious diplomacy dilakukan dengan melibatkan tokoh agama dan para imam besar dari berbagai negara untuk membangun satu suara mengenai perdamaian dunia.
Selain diplomasi keagamaan, IGIC juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui penguatan kapasitas para imam.
Sabilul mengungkapkan, terdapat sejumlah negara yang telah menyampaikan kebutuhan terhadap imam.