Selain meningkatkan kapasitas produksi, Hidayat mengapresiasi inovasi UPQ dalam menyediakan Al-Qur’an bagi kelompok berkebutuhan khusus, termasuk Al-Qur’an Isyarat dan Al-Qur’an Braille. Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi buta aksara Al-Qur’an harus dilakukan secara inklusif agar seluruh masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar.
Senada dengan Hidayat, Anggota Komisi VIII DPR RI Lisda Hendrajoni menyoroti masih tingginya jumlah masyarakat Indonesia yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama dan ditindaklanjuti dengan langkah konkret.
“Ini miris sekali, melalui pertemuan ini saya mengajak kita semua untuk bersama-sama bagaimana menurunkan angka buta Al-Qur’an ini,” ujar Lisda.
Menurut Legislator Fraksi NasDem itu, upaya memberantas buta aksara Al-Qur’an perlu didukung dengan ketersediaan mushaf yang cukup. Ketersediaan tersebut menjadi salah satu sarana penting untuk memperluas kesempatan masyarakat dalam belajar membaca Al-Qur’an.
“Karenanya, kami sangat mendukung apa yang dibutuhkan, dalam hal ini mesin dan segala perlengkapannya untuk membuat Al-Qur’an,” tegasnya.
Lisda berharap penguatan kapasitas produksi dan distribusi Al-Qur’an hingga ke berbagai daerah dapat menjadi bagian dari strategi negara dalam menekan angka buta aksara Al-Qur’an secara berkelanjutan.
“Ini akan menjadi perjuangan kita bersama. Semoga bagaimana anak cucu kita nanti tidak lagi menghadapi persoalan buta Al-Qur’an,” pungkasnya
Aentenews by Ampelsa