Jakarta (Aentenews)- Pemerintah terus mempercepat pemulihan sekolah yang terdampak bencana di Sumatera dengan dukungan anggaran yang telah disalurkan total sebesar Rp3,408 triliun yang mencakupi revitalisasi sebanyak 3.119 satuan pendidikan senilai Rp3,001 triliun dan tunjangan khusus bagi guru terdampak senilai Rp315,1 miliar.
Bantuan lainnya juga meliputi 35 ribu paket school kit, 169 tenda, 211 ruang kelas darurat, 197.670 buku pembelajaran, dukungan psikososial bagi 870 satuan pendidikan, serta dana operasional pendidikan darurat bagi 1.650 sekolah.
“Pemulihan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga memastikan guru dapat tetap mengajar dan peserta didik memperoleh dukungan yang mereka butuhkan untuk melanjutkan pembelajaran,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menegah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Jakarta Kamis (18/6/2026).
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemenuhan hak belajar peserta didik menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan penanganan bencana. “Tidak boleh ada anak Indonesia yang kehilangan hak belajarnya karena terdampak bencana. Karena itu, kami memastikan layanan pendidikan tetap berjalan sambil mempercepat pemulihan sarana dan prasarana agar peserta didik dapat belajar dengan aman dan nyaman,” ujar Mendikdasmen.
Berdasarkan data per 9 Juni 2026, sebanyak 4.922 satuan pendidikan berbagai jenjang terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Meski demikian, seluruh satuan pendidikan telah kembali melaksanakan pembelajaran dengan tingkat keterlaksanaan mencapai 100 persen.
Dari total sekolah terdampak sebanyak 4.828 sekolah telah kembali belajar di sekolah asal, 52 sekolah menggunakan ruang kelas darurat, 35 sekolah masih memanfaatkan tenda, dan 7 sekolah menumpang di sekolah atau bangunan publik lainnya. Ditargetkan pada tahun ajaran baru Juli 2026 tidak ada lagi sekolah yang belajar di tenda.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh peserta didik dapat belajar di ruang yang lebih layak. Karena itu, penyediaan ruang kelas darurat dan percepatan revitalisasi terus kami lakukan agar pada tahun ajaran baru tidak ada lagi sekolah yang belajar di tenda,” lanjut Mendikdasmen.