Gayo Lues (Aentenews) - Penanganan kawasan hulu di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, terus dipercepat untuk mengurangi risiko bencana di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lesten, salah satunya melalui pembangunan Sabo Dam Pepelah di Kecamatan Pining yang kini telah mencapai progres fisik 50 persen.
Sabo Dam tersebut dirancang untuk menahan material sedimen berupa lumpur, pasir, dan pecahan batu agar tidak terbawa arus secara berlebihan menuju hilir. Pengendalian sedimen diharapkan dapat mengurangi pendangkalan sungai dan memperkuat perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai.
“Sabo Dam ini untuk mengendalikan sedimentasi dari debris atau pecahan batu,” kata Pengawas Proyek Sabo Dam Pepelah dari PT Suwanda Karya Mandiri, Firman Siahaan, saat menerima kunjungan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera di Kecamatan Pining, Sabtu (10/10/2026).
Pembangunan Sabo Dam Pepelah didukung APBN Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp70 miliar dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. Untuk mengejar target tersebut, pelaksana proyek menambah tenaga kerja dan alat berat serta menerapkan sistem kerja tiga sif.
Saat ini, sekitar 60 pekerja dikerahkan bersama enam unit ekskavator, satu unit breaker, dua truk pengaduk beton, dan satu unit pompa beton. Pekerjaan dilakukan secara bergantian pada siang dan malam hari dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan pekerja.
“Percepatannya sekarang kami bekerja siang dan malam karena sudah mendekati musim hujan dan waktu pelaksanaan juga semakin dekat dengan Desember,” ujar Firman.
Koordinator Lapangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Aceh Fahried Wajidi menjelaskan pembangunan Sabo Dam Pepelah menjadi bagian dari penanganan DAS Lesten secara lebih menyeluruh. Saat terjadi hujan lebat, aliran dari kawasan hulu dapat membawa sedimen dan material batu dalam jumlah besar menuju wilayah hilir.
“Sedimen datang dari hulu DAS Sungai Lesten. Apabila terjadi banjir besar, material tersebut dapat terbawa hingga ke wilayah hilir, terutama Aceh Timur dan Aceh Tamiang,” kata Fahried.
Keberadaan infrastruktur pengendali sedimen tersebut juga diharapkan memperkuat perlindungan bagi permukiman di sepanjang aliran sungai. Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Desa Pining, Desa Lesten, Desa Lokop, serta kawasan permukiman lain di bagian hilir DAS.
Pembangunan ini berkaca pada bencana hidrometeorologi November 2025 yang mengakibatkan luapan sungai dan membawa material sedimen ke kawasan permukiman. Karena itu, penanganan tidak hanya diarahkan pada pemulihan lokasi terdampak, tetapi juga pada penguatan infrastruktur mitigasi agar risiko kerusakan serupa dapat ditekan.