Ia mengatakan pembinaan di Ma’had merupakan bagian dari proses pendidikan yang manfaatnya akan kembali kepada mahasiswa.
“Seriuslah mengikuti program ini. Mungkin ada rasa berat, mungkin ada rasa bosan, tetapi itu harus dilawan. Program ini baik untuk kalian sendiri,” ujar Rektor.
Mujiburrahman menegaskan program Ma’had Al Jami’ah bukan diperuntukkan bagi para pendamping ataupun pimpinan universitas, melainkan untuk kepentingan mahasantri.
“Program ini bukan untuk pendamping dan bukan untuk pimpinan, tetapi untuk Anda sendiri. Nanti setelah selesai mengikuti program ini, Anda akan melihat manfaatnya,” tegasnya.
Mujiburrahman kemudian mengingatkan tradisi pendidikan di IAIN Ar-Raniry sebelum berubah menjadi UIN. Pada masa IAIN, kemampuan membaca Al-Qur'an, pengetahuan dasar Dinul Islam dan praktik ibadah menjadi bagian yang sangat penting bagi calon mahasiswa.
Bahkan, calon mahasiswa tidak dapat diterima apabila tidak memiliki kemampuan dasar tersebut. Namun setelah IAIN Ar-Raniry bertransformasi menjadi UIN, sistem penerimaan mahasiswa tidak lagi melakukan tes khusus kemampuan membaca Al-Qur'an dan pengetahuan dasar Dinul Islam.
Karena itu, menurut Mujiburrahman, Kementerian Agama menghadirkan program Ma’had sebagai salah satu instrumen pembinaan wajib bagi mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam.
“Karena itu, silakan ikuti program ini dengan baik dan serius,” katanya.