Lahan sawah terdampak banjir. Aentenews Foto/Ampelsa
Banda Aceh (Aentenews) - Pemerintah Aceh optimistis percepatan pemulihan seluas 40.852 hektare sawah rusak ringan dan sedang akibat bencana banjir November 2025 dapat diselesaikan sepanjang 2026 dan tidak termasuk sawah rusak berat seluas 16.283 hektare yang hingga saat ini masih menghadapi kendala perlunya dilakukan identifikasi ulang dan pemetaan lahan secara akurat.
Optimisme itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Alam Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Kamis (27/8/2026).
“Dengan kerja keras dan kolaborasi para pihak kita sudah sampai setengah jalan. Insya Allah musim tanam Oktober ini akan banyak sawah yang bisa ditanami, dan sebagian yang sudah ditanam sebelumnya akan ada yang panen,” ujar Azanuddin dalam rakor yang digelar secara daring.
Rakor yang digelar secara daring tersebut dipimpin Karendal Anev Posko Nasional Satgas PRR, Brigjen TNI Andre Julian, SIP, M.Sos, dan diikuti pemerintah provinsi serta kabupaten/kota yang masih berindikator merah atau memiliki serapan rendah. Pertemuan juga diikuti Kemendagri, Kementerian Pertanian, Kementerian PU dan Bappenas.
Brigjen TNI Andre mengatakan rakor digelar untuk mengetahui hambatan sekaligus mencari solusi bagi daerah yang realisasinya masih rendah. Dengan waktu yang tersisa, pekerjaan diharapkan dapat dipercepat sehingga sawah dan irigasi dapat dimanfaatkan kembali oleh petani terdampak bencana.
Ia menyebutkan, hingga 25 Agustus 2026, serapan anggaran pemulihan sawah di Aceh telah mencapai 52,9 persen atau sekitar Rp272,3 miliar dari total anggaran sekitar Rp515 miliar.