Azanuddin menjelaskan, program pemulihan sawah dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap I mencakup 23.818 hektare sawah rusak ringan melalui optimalisasi lahan (oplah) dan 4.393 hektare rusak sedang melalui rehabilitasi, dengan total 28.211 hektare.
Tahap II mencakup 3.253 hektare oplah dan 9.388 hektare rehabilitasi, dengan total 12.641 hektare. Saat ini, dokumen rancangan teknis (DRT) tahap II sedang disusun.
Jika konstruksi tahap I dan II digabung, serapan anggaran telah mencapai 63 persen dengan realisasi fisik sekitar 10.333 hektare pada 16 kabupaten/kota. Pengolahan lahan mencapai serapan sekitar 36 persen dengan fisik 4.180 hektare.
Untuk rehabilitasi, serapan mencapai 32 persen dengan fisik lahan 4.393 hektare pada 11 kabupaten/kota, sedangkan pengolahan lahannya mencapai 31 persen dengan fisik sekitar 2.080 hektare.
Sementara itu, pembangunan infrastruktur pendukung juga menunjukkan perkembangan. Irigasi perpompaan telah mencapai 68 persen, irigasi perpipaan 88 persen, bangunan konservasi 55 persen, jaringan irigasi tersier 96 persen dan jalan usaha tani 54 persen. Secara keseluruhan, rata-rata serapan seluruh kegiatan mencapai 52,9 persen.
Azanuddin meminta dinas pertanian kabupaten/kota terus memacu pekerjaan sekaligus mendampingi kelompok tani penerima program. Pihak TNI yang melaksanakan pekerjaan di lapangan juga diminta menyelesaikan kegiatan sesuai jadwal.
“Koordinasi harus terus diperkuat, sehingga setiap kendala yang muncul dapat segera dicarikan jalan keluarnya,” demikian katanya.
Aentenews by Ampelsa