Dalam dinamika menjelang Musda, sikap netral dan tidak berpihak pada salah satu kepentingan politik internal dinilai menjadi pilihan strategis.
Netralitas bukan berarti pasif atau tidak memiliki sikap, melainkan bentuk tanggungjawab untuk memastikan seluruh proses organisasi berjalan secara adil, demokratis, dan bermartabat.
"Saya menilai di tengah menguatnya berbagai aspirasi dan dukungan terhadap sejumlah figur, kehadiran tokoh pemersatu menjadi penting agar kompetisi tidak berubah menjadi konflik yang berlarut-larut," ujarnya menambahkan.
Menurut dia, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tentu memiliki harapan besar agar Demokrat Aceh mampu menjadi salah satu kekuatan partai yang membanggakan di tingkat nasional.
Hubungan historis yang kuat antara Partai Demokrat dan kader-kader Aceh, khususnya pada masa kepemimpinan SBY, merupakan modal politik yang seharusnya dirawat dan dikembangkan, bukan sekadar dijadikan nostalgia politik.
Karena itu, Musda Demokrat Aceh semestinya tidak berhenti pada agenda memilih ketua baru, tapi harus menjadi momentum untuk konsolidasi organisasi, memperkuat kaderisasi, memperluas ruang kebersamaan, dan menegaskan kembali arah politik partai di Aceh.
"Harapannya adalah siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu menjadi pemimpin bagi seluruh kader, bukan hanya bagi kelompok yang mendukungnya dalam proses pemilihan," kata dia.
Dalam konteks tersebut, Teuku Riefky Harsya diharapkan dapat memainkan peran penting sebagai figur pemersatu.