"Nah ini tidak boleh lagi ada kesalahan yang sama pada Blok Andaman," kata dia menjelaskan.
Karena itu, tuntutan Aceh tidak boleh dipersempit hanya pada pembagian keuntungan.
"Yang jauh lebih penting, memastikan gas Blok Andaman diproses di Aceh, membangun industri hilir, memperkuat kawasan ekonomi, menghidupkan kembali Arun, memperluas jaringan pipa gas domestik, serta menciptakan lapangan kerja bagi putra/putri Aceh. Tanpa hilirisasi, Aceh hanya akan menjadi penonton saat kekayaan alamnya mengalir keluar daerah," tambahnya.
Pernyataan Bahlil bahwa sebagian gas Andaman dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri Aceh, termasuk menghidupkan kembali industri pupuk, merupakan langkah positif.
Namun, ujar Usman, komitmen tersebut harus segera diterjemahkan ke dalam kebijakan resmi pemerintah, bukan berhenti sebagai pidato politik. Sebab, investor membutuhkan kepastian, bukan hanya harapan.
Aceh sebagai daerah khusus melalui Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Semangat desentralisasi asimetris yang diberikan kepada Aceh lahir dari proses sejarah yang panjang.
Oleh karena itu, ketika ditemukan cadangan gas dalam di kawasan Andaman, sangat wajar apabila masyarakat Aceh berharap memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dibanding daerah lain.
Dalam konteks inilah, kalimat "kalau memang harus kita bagi, bagi saja" memang terdengar menenangkan, tetapi belum memberikan kepastian.