Kemudian imunisasi rendah, berupa cakupan imunisasi yang belum maksimal menempatkan anak-anak Aceh dalam risiko kesehatan tinggi.
Selanjut, Nasrul Zaman menyebutkan kemiskinan ekstrem, nasib fakir miskin dan masyarakat rentan seolah terabaikan dari intervensi anggaran yang signifikan. Dan kondisi ini dinilai menjadi ncaman terhadap visi Mualem-Dek Fadh.
Karena itu, Dosen Fakultas Kedokteren USK menilai, langkah TAPA ini telah melenceng jauh dari semangat perubahan dan cita-cita pembangunan yang ditegaskan oleh pasangan pemimpin Aceh, Mualem-Dek Fadh. Alokasi anggaran yang "boros" tersebut dianggap merusak fondasi kesejahteraan yang seharusnya menjadi prioritas utama.
"Sangat tidak pantas jika biaya seremoni lebih diutamakan daripada perut rakyat kecil," ungkap pengamat kebijakan publik.
Jika tata kelola anggaran ini tidak segera diperbaiki, visi besar membangun Aceh yang mandiri dan sejahtera yang digabungkan Mualem hanya akan menjadi slogan di atas kertas iklan yang mahal.//Redaksi.