Banda Aceh (Aentenews) - Pohon cemara yang tumbuh teguh di bibir pantai tak hanya tempat berlindung, tapi juga simbol sebuah harapan, menunjukkan kemampuan adaptasinya yang luar biasa, kuat menghadapi terjangan ombak dan angin kencang.
Keteguhan pohon cemara dari terjangan angin dan ombak itu juga menjadi wujud kekuatan yang terpatri dalam diri anak-anak nelayan, tidak terkecuali bagi sosok Juwaini kecil, puluhan tahun lalu.
Lahir dari keluarga nelayan sederhana di Gampong (desa) Lipah Cut, Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh, perjalanan hidup Juwaini ketika itu bukan kisah yang mudah.
Juwaini kecil hidup di tengah keterbatasan, namun semangat belajarnya tak pernah surut. Setiap hari ia berjalan kaki ke madrasah dan belajar di bawah cahaya lampu seadanya, ditemani debur ombak dari pantai kampung halamannya.
Ibarat dari jala ke kampus. “Pendidikan bagi saya adalah perahu untuk keluar dari kemiskinan,” ujarnya mengenang masa kecilnya.
Perjalanan pendidikan Juwaini sempat terhenti karena ekonomi keluarga. Namun, ia kembali bangkit dengan bersekolah di sore hari sambil bekerja di pagi hari.
Bak buih di tengah lautan lepas. Ketika diterima di SMA Negeri 1 Bireuen, ia menjual kue basah dan kue kering untuk membayar biaya sekolah. Dari hasil kerja keras itu, ia mampu menamatkan SMA dan melanjutkan kuliah ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh.