Estafet pengembangan ilmu dan peradaban Islam tidak selamanya harus berpusat di Timur Tengah. Indonesia, khususnya Aceh, dinilai memiliki posisi strategis untuk mengambil peran tersebut.
"Tempat yang paling aman untuk mengadopsi ilmu dan peradaban Islam adalah di Indonesia. Saya kira tempat yang paling strategis adalah di Aceh," kata Nasaruddin.
Posisi Aceh yang berada di kawasan Asia Tenggara dan berdekatan dengan Malaysia serta Brunei Darussalam menjadi salah satu modal strategis.
Nasaruddin juga mengingatkan sivitas akademika UIN Ar-Raniry untuk tidak menjadikan Al Quran hanya sebagai sumber keagamaan, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangan sains dan teknologi membuka semakin banyak ruang untuk mengkaji kandungan Al-Qur'an secara akademis. "Saya mengajak mahasiswa dan sivitas akademika UIN Ar-Raniry tidak ragu mendalami Al-Qur'an dengan pendekatan ilmiah," ujarnya.
"Jangan takut bersama Al Quran. Sekarang pegangan ilmiah di Barat itu adalah Al Quran," ujarnya.
Nasaruddin turut mengapresiasi perkembangan UIN Ar-Raniry. UIN Ar Raniry sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam yang mendapat perhatian besar dari Kementerian Agama.
Ia juga mengajak sivitas akademika meneladani tokoh-tokoh Aceh yang dinilai memiliki keteguhan dalam keilmuan, pemikiran, dan prinsip.