Program huntap in situ merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah melalui BNPB untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat bencana. Dalam skema ini, rumah dibangun kembali di atas lahan milik warga dengan tipe bangunan seluas 36 meter persegi.
Setiap unit huntap dilengkapi dua kamar tidur, satu kamar mandi, serta ruang keluarga atau ruang tamu. Bangunan menggunakan konstruksi pondasi permanen, dinding bata plester, rangka baja ringan, dan atap spandek. Saat ini proses pembangunan masih terus berlangsung sebagai bagian dari tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Aceh.
Lebih lanjut, Suharyanto menyebutkan bahwa hingga saat ini BNPB telah menerima usulan pembangunan sekitar 15.000 unit huntap in situ yang berasal dari tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, sekitar 800 hingga 900 unit rumah telah dibangun secara serentak, sementara hampir 400 unit di antaranya telah selesai.
Saat ini pemerintah terus mempercepat pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, seiring selesainya pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana. “Nanti kita bisa melihat dari Aceh Tamiang, Aceh Timur sampai ke Aceh Utara, beberapa rumah yang sudah jadi dan begitu sudah jadi langsung dilihat masyarakat semuanya tidak bisa seketika jadi, tapi ini proses berjalan terus,” tutup Suharyanto.
Aentenews by Ampelsa.