Syaifullah menjelaskan dalam 12 tahun terakhir, ekosistem nilam Aceh tumbuh positif dan menciptakan berbagai nilai tambah baru dari proses inovasi riset yang telah dilakukan.
"Hilirisasi nilam menciptakan ekosistem baru industri atsiri Indonesia khususnya di Aceh, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi untuk petani dan UMKM" jelas Syaifullah.
Ia berharap pemerintah perlu melihat dan membangun inovasi serta hilirisasi berbasis riset dari pinggiran Indonesia, agar konteks lokal keragaman hayati dari berbagai pelosok negeri bisa terangkat dengan nilai ekonomi tinggi untuk kesejahteraan rakyat," pungkas Syaifullah.
Pada kesempatan itu, Wakil Rektor III USK, Prof. Mustanir, menegaskan bahwa pihak universitas akan terus mendukung penuh keberlanjutan program hilirisasi berbasis inovasi riset nilam ini. “USK berkomitmen menjadikan inovasi nilam tidak hanya sebagai pencapaian akademik, tetapi sebagai gerakan ekonomi,” tegas Mustanir.
Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala adalah Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) yang berfokus pada riset, pengembangan, dan komersialisasi produk turunan nilam Aceh untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan kemandirian industri parfum serta kosmetik nasional.
ARC dikenal memiliki reputasi dan prestasi di tingkat nasional dan internasional khususnya dalam implementasi hasil riset nilam yang memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat.
Aentenews by Ampelsa.