Banda Aceh (Aentenews) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengembangkan sistem mitigasi berbasis teknologi, salah satunya melalui pembangunan Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) serta pemasangan sensor, sirine, dan dashboard pemantauan berbasis real-time.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, dalam memberikan kuliah umum bagi Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Gedung Gatot Subroto Seskoad, Bandung, Jawa Barat pada Rabu (1/4/2026).
Sebanyak 282 pasis yang terdiri dari TNI Angkatan Darat (AD), TNI Angkatan Udara (AU), TNI Angkatan Laut (AL), Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Pasis dari negara sahabat tampak antusias dalam menerima pembekalan materi yang disampaikan.
Dalam arahannya Suharyanto menyampaikan BNPB terus memperkuat sistem penanggulangan bencana secara menyeluruh, mulai dari tahap mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi, guna melindungi masyarakat serta menjaga ketahanan nasional.
"Para Pasis disini nantinya akan menjadi pemimpin, maka kita harus meningkatkan kapasitas dan sinergi bersama dalam menghadapi potensi risiko bencana di daerah masing-masing," ujar Suharyanto.
Implementasi sistem peringatan dini banjir di beberapa wilayah, termasuk Bekasi dan Banda Aceh, memungkinkan pemantauan tinggi muka air, curah hujan, dan kondisi lapangan secara terintegrasi. Sistem ini mampu memberikan peringatan bertahap mulai dari deteksi sensor, koordinasi lintas instansi, hingga penyampaian informasi kepada masyarakat sebelum evakuasi dilakukan.
Namun demikian, BNPB menilai bahwa keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam memahami dan merespons peringatan yang diberikan. Oleh karena itu, edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi terus ditingkatkan guna meningkatkan upaya pengurangan risiko bencana.