Kemudian, memberikan pendampingan dan dukungan psikososial, termasuk bantuan spesifik perempuan dan anak bersama instansi terkait serta beberapa lembaga CSO (masyarakat sipil), guna membantu perempuan dan anak pulih dari trauma akibat bencana.
Serta, memastikan akses layanan rujukan pendampingan dan psikologis, melalui UPTD PPA bersama mitra layanan di daerah, khususnya di wilayah terdampak bencana .
"Kita juga terus memastikan bahwa setiap fasilitas hunian memfasilitasi ruang ramah perempuan dan anak dalam bentuk pos Sapa (sahabat perempuan dan anak)," tuturnya.
Ia menegaskan, DP3A Aceh berkomitmen untuk terus memastikan bahwa perempuan dan anak terdampak bencana tidak hanya selamat secara fisik, tetapi juga terlindungi hak-haknya dan mendapatkan dukungan proses pemulihan.
Dalam kesempatan ini, Meutia mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya di Aceh untuk benar-benar saling peduli dan melaporkan apabila terdapat perempuan dan anak yang terdampak bencana membutuhkan bantuan serta perlindungan.
"Penanganan kelompok rentan akan terus dilakukan secara terintegrasi, berkelanjutan, dan berperspektif gender serta perlindungan. Untuk itu, mari bersama-sama saling peduli terhadap perempuan dan anak terdampak bencana Aceh," pungkas Meutia Juliana.//Redaksi.