Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, menyoroti disiplin eksekusi dan intensitas kerja BUMN dalam mengejar target waktu yang ketat.
"Pembangunan Rumah Hunian Danantara dilakukan dalam rentang waktu yang sangat terbatas. BUMN bekerja dengan intensitas tinggi, melakukan percepatan konstruksi, pengadaan material, hingga pengawasan mutu secara simultan agar target dapat tercapai sebelum awal tahun," jelasnya.
Menurut Dony, koordinasi erat antara Danantara Indonesia dan BUMN pelaksana, pemerintah daerah, dan kementerian menjadi faktor utama dalam menjaga progres pembangunan tetap sesuai rencana. "Ini adalah contoh konkret bagaimana BUMN menjalankan peran strategisnya sebagai perpanjangan tangan negara, bukan hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada kepentingan sosial dan kemanusiaan," ujarnya.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo, menyatakan bahwa keterlibatan BSI tidak hanya terbatas pada layanan perbankan, melainkan memastikan masyarakat memiliki fondasi yang kuat untuk bangkit kembali.
"Hunian Sementara (Huntara) ini menjadi solusi krusial bagi saudara-saudara kita di Aceh yang kehilangan tempat tinggal. Sesuai arahan Danantara, kami memastikan hunian ini memenuhi standar 'Layak'—artinya tidak sekadar memberikan atap, tetapi memberikan rasa aman, nyaman, dan bermartabat agar warga bisa kembali produktif," ujar Anggoro
BSI mendukung penuh standar "Layak" yang ditetapkan Danantara Indonesia. Huntara yang dibangun tidak hanya berupa struktur fisik, tetapi mencakup ekosistem kehidupan yang lengkap.
Setiap unit dirancang dengan konsep modular untuk kecepatan dan kualitas, serta dilengkapi fasilitas penunjang seperti listrik gratis, akses air bersih, drainase yang baik, hingga konektivitas Wi-Fi gratis untuk mendukung akses informasi dan ekonomi digital warga.
"Fasilitas ini penting agar pemulihan tidak hanya fisik, tapi juga sosial dan ekonomi," tambah Anggoro.//Redaksi.