Saat air mulai surut, kami memberanikan diri turun, lengan suami saya terluka parah karena kuat cengkeramannya di pohon kelapa sementara dia juga menanggung beban tubuh kami, karena kami bergelantung di tubuh suami,” ucap Kasmadewi.
Di desa itu, Marlina Muzakir atau akrab di sapa Kak Na bersama dengan staf ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhulullah, ikut memberikan pelayanan kesehatan kepada korban banjir.
Kak Na bukan dokter, dan juga bukan bidan, tapi selalu menanyakan tentang keluhan kesehatan warga serta ikut memilih dan menyerahkan obat yang dibutuhkan warga.
Obat-obatan yang dibagikan dan jasa pemeriksaan yang dilakukan oleh para istri pimpinan Aceh ini tentu saja gratis, karena ini merupakan upaya Kak Na dan TP PKK Aceh menjaga kesehatan warga di posko pengungsian.
“Keluhan terbanyak tentu gatal-gatal karena selama ini masyarakat selalu bergelut dengan air dan lumpur. Selebihnya batuk, sakit gigi, demam flu dan beberapa keluhan lainnya,” ujar Kak Na.
Kak Na dan tim juga menyalurkan bantuan tanggap darurat ke posko Gampong Matang Linya, yang didirikan masyarakat di Meunasah Matang Linya. Selain itu, Kak Na juga ke posko Gampong Geumpang Bungkok Kecamatan Baktiya dan posko Gampong Buket Padang Kecamatan Tanoh Jamboe Aye.
Kepada para geuchiek dan warga di posko, Kak Na menjelaskan, dirinya besama tim hanya menyalurkan bantuan yang disumbangkan oleh masyarakat dan sejumlah lembaga, baik lokal, nasional maupun dari negara luar negeri.
“Ini bukan bantuan dari saya tapi dari saudara se-Indonesia, dari lembaga dan organisasi baik lokal nasional maupun dari luar negeri, yang peduli dengan bapak ibu yang terdampak bencana. Kami hanya mengantar, hanya menyalurkan,” ucap Kak Na menjelaskan.//Redaksi.