Sebagai bagian dari ikhtiar spiritual, para ulama mengajak seluruh masyarakat untuk menghidupkan masjid, baik di wilayah terdampak maupun tidak terdampak bencana, melalui doa bersama, ibadah, serta kegiatan sosial-keagamaan guna menguatkan ketahanan spiritual masyarakat Aceh.
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali, mengungkapkan bahwa banyak permohonan datang dari berbagai tokoh masyarakat, khususnya tokoh intelektual dan kalangan non-politik, agar MPU Aceh menghimpun para ulama untuk bersama-sama menyuarakan sikap terkait dengan penanganan bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh.
Ulama yang akrab disapa Abu Sibreh ini menyebutkan bahwa para tokoh tersebut berharap ulama dapat bersatu memberikan masukan dan dorongan kepada pemerintah pusat, terutama agar lebih serius dan cepat dalam merespons bencana yang terus terjadi di berbagai daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Abu Sibreh menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf (Mualem), serta para kepala daerah yang dinilai telah bekerja keras membantu masyarakat terdampak bencana.
Ia menegaskan bahwa menangisnya para kepala daerah di Aceh dalam menangani dampak bencana bukan tanda “cengeng” atau “menyerah dalam keputusasaan”, tetapi sebuah pengakuan jujur atas keterbatasan manusia di hadapan kuasa alam dan besarnya penderitaan rakyat yang mereka pimpin.
“Penyerahan kepada pemerintah pusat bukan berarti putus asa atau tidak bekerja. Itu adalah bentuk pengakuan bahwa dalam kondisi tertentu, bencana yang begitu besar tidak mampu ditangani sendiri oleh daerah, sehingga membutuhkan kehadiran dan bantuan dari pemerintah pusat,” ungkap Abu Sibreh.
Ia mencontohkan situasi di lapangan saat bencana terjadi, ketika derasnya air bercampur batu dan material lainnya membuat masyarakat tidak dapat saling membantu. Dalam kondisi seperti itu, menurutnya wajar jika pemerintah daerah meminta bantuan lebih besar dari pemerintah pusat.
Melalui Muzakarah Ulama Aceh 2025, hasil rekomendasi dari ulama ini diharapkan dapat menjadi penyejuk dan penyemangat bagi Pemerintah Aceh, sekaligus menjadi ‘ketukan hati’ bagi pemerintah pusat agar memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dalam penanganan bencana.