Abiya Kuta Krueng juga menegaskan bahwa kerusakan-kerusakan yang menimpa institusi pendidikan Islam di Aceh seperti dayah juga bukan hanya kerugian fisik, tetapi juga mengancam keberlanjutan pendidikan Islam di Aceh. Sistem pendidikan Islam tradisional berbasis dayah yang menjadi identitas Aceh sangat bergantung pada fasilitas yang kini rusak berat.
"Situasi darurat juga terlihat di sejumlah titik pengungsian. Laporan tim kemanusiaan menyebutkan situasi krusial dimana pengungsi kekurangan bahan pokok seperti beras, susu bayi, selimut, obat-obatan, pakaian layak pakai, dan fasilitas sanitasi. Lansia, anak-anak, disabilitas, dan ibu menyusui menjadi kelompok paling rentan," terang Abiya Kuta Krueng.
Melihat kondisi tersebut, tambah Abiya, para ulama Aceh menyerukan langkah penting yaitu pentingnya tindakan strategis negara sesegera mungkin dan perwujudan solidaritas sosial rakyat Indonesia.
Dalam konteks Aceh yang pernah menghadapi bencana besar seperti tsunami 2004, Abiya menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak boleh menunda keputusan strategis ketika situasi sudah mendesak.
“Musibah ini merupakan ujian, tetapi penanganannya adalah amanah negara,” ujar Abiya Kuta Krueng lagi.
Abiya Kuta Krueng berharap keputusan cepat pemerintah dapat menyelamatkan warga terdampak sekaligus mempercepat pemulihan dari bencana ini.// Redaksi.